Selasa, 11 Desember 2012

Kontribusi Nyata Untuk Bangsa Di Masa Mendatang

               Sudah berlalu setengah abad yang lalu. Pendiri negeri ini pernah berkata bahwa tujuan didirikannya universitas adalah untuk menghasilkan lulusan-lulusan terbaik yang dapat menjadi solusi bagi permasalahan bangsa. Lantas mengapa harus mahasiswa? mengapa pada akhirnya mahasiswa menjadi harapan besar bangsa ini? sesungguhnya jika kita mau melihat lebih dalam pada diri kita, maka jawaban tersebut akan kita temukan dengan sangat jelas.
            Kebanyakan mahasiswa beranggapan bahwa menjadi seorang yang siap secara internal maupun eksternal terlebih dahulu, sebelum akhirnya berkontribusi untuk masyarakat. Hal tersebut dimanifestasikan dengan banyaknya rencana hidup mahasiswa dengan isi yang tidak jauh berbeda. Diawali lulus dengan predikat cumlaude, bekerja di perusahaan baik nasional maupun internasional, mendapatkan gaji tinggi, melanjutkan S2 ke luar negeri, dan di saat semua hal tersebut dicapai maka itulah saat yang tepat untuk berkontribusi di masyarakat.
            Apakah manusia dapat menjamin bahwa dirinya dapat hidup sampai dia siap untuk mengabdi kepada masyarakat? tidak, tidak ada seorang pun yang dapat menjamin bahwa dirinya akan hidup di keesokan harinya. Jika seseorang menunggu waktu yang tepat untuk dirinya dapat mengabdi pada negeri ini, maka sampai matipun dirinya tidak akan pernah siap. Seperti itulah gambaran seorang mahasiswa dalam mempersiapkan diri untuk berkontribusi dalam masyarakat dan bangsa ini. Dan yang harus dilakukan adalah melakukannya sekarang, bukan nanti!


Berawal Dari Hal-Hal Kecil
            Banyak pelajaran yang sering kita dapatkan bermula dari hal-hal yang kecil. Jangan pernah menganggap remeh hal-hal yang kecil. Pasalnya, suatu yang besar berawal dari hal-hal yang kecil. Hal kecil bila dianggap sepele dapat berimbas kurang baik bahkan fatal bagi hal yang besar. Hal yang kecil adalah dasar dari hal-hal yang besar. Jika hal yang kecil saja tidak disikapi dengan baik dan serius, bagaimana dapat menyikapi hal yang besar? “Barang siapa tidak menghargai sesuatu yang dianggap kurang berharga (hal kecil), maka ia pun tidaklah pantas diberi kepercayaan untuk mengelola atau memiliki usaha besar.” (B. J. HABIBIE)
            Dari hal kecil ini lah semua kontribusi nyata akan dimulai. Sebagai mahasiswa, memulainya dengan membentuk karakter pribadi masing-masing. Membentuk karakter dimulai dengan melakukan internalisasi nilai-nilai mendasar seorang akademisi yaitu pendidikan, penelitian, dan pengabdian masyarakat. Pada masa studi, tahap internalisasi nilai-nilai mendasar akan berjalan secara beriringan. Setelah tahap internalisasi, maka semangat kontribusi akan melekat pada masing-masing pribadi. Hal ini akan menjadi modal besar untuk menebar manfaat yang sebesar-besarnya tanpa harus menunggu nanti. Menebar manfaat sebesar-besarnya, berarti dapat bergerak dari lini manapun ia berada sebagai praktek lapangan akan kontribusi nyatanya di masyarakat.
Mengabdi Kepada Masyarakat Melalui Dusun Binaan
            Mengabdi dapat dilakukan dimanapun tempatnya, kapanpun waktunya, dan bagaimanapun caranya. Pengabdian merupakan setitik kecil pembawa perubahan bagi kehidupan masyarakat di dusun binaan. Melalui organisasi, lembaga, komunitas maupun pribadi, pengabdian pada masyarakat dapat terwujud. Melalui organisasi pengabdian dapat dilakukan dengan baik. Dapat teroganisir, terjadwalkan dengan baik, dan dengan SDM yang cukup serta beraneka ragam kemampuan yang dapat diaplikasikan. Beberapa contoh program pengabdian yang dapat dilakukan di dusun binaan antara lain:
1.        Pendidikan Dasar dan TPA (Tempat Pembelajaran Al Qur’an) Bagi Anak-Anak
Pendidikan merupakan kebutuhan masyarakat yang ingin menuju ke arah yang lebih baik. Karena dengan pendidikan yang berkualitas dapat menunjang pembangunan di segala bidang. Dari alasan di atas, maka pemberian pendidikan haruslah dimulai dari dasar. Memberikan pelajaran tambahan kepada anak-anak yang mayoritas masih duduk di bangku sekolah dasar merupakan nilai tambah dan manfaat bagi mereka yang mungkin kurang paham ketika belajar di sekolah. Dengan melakukan kegiatan ini secara rutin, setidaknya anak-anak dapat terbantu. Selain itu, TPA (Tempat Pembelajaran Al Qur’an) adalah sarana pendidikan di bidang agama Islam dalam membentuk akhlak yang baik. Luaran yang diharapkan dari pendidikan berbasis agama ini nantinya anak-anak dapat menjadi insan yang berakhlak mulia dan cerdas di bidang ilmu lainnya.
2.        Wirausaha Untuk Ibu-Ibu
Di kehidupan masyarakat desa, kecenderungan ibu-ibu menjadi seorang wirausaha masih kurang. Dengan program ini, kita dapat membantu ibu-ibu dalam merintis usaha. Selain berperan sebagai ibu rumah tangga, ibu-ibu dapat memberikan penghasilan tambahan bagi keluarga. Dimulai dengan sosialisasi wirausaha dan pemahaman mudahnya menjadi wirausaha. Wirausaha dapat dimulai dari membuat usaha kecil. Dari usaha kecil itu lantas dapat dikembangkan menjadi usaha yang kelas besar.
3.        Teknologi Tepat Guna Untuk Kesejahteraan Masyarakat
Tingkat kemajuan teknologi di pedesaan masih sangat kurang. Dengan program ini, kita berusaha membantu masyarakat desa dalam mengembangkan teknologi yang dapat memudahkan dalam bekerja maupun usaha sehari-hari. Selain harus melihat dari sisi yang memang membutuhkan diterapkannya teknologi tepat guna, juga harus jeli dalam memanfaatkan program ini. Teknologi tepat guna dapat diaplikasikan juga dalam bidang pertanian. Dengan teknologi tepat guna, kesejahteraan masyarakat di bidang pertanian dan bidang-bidang lainnya dapat meningkat dengan perlahan.
4.        Program Kesehatan
Program kesehatan merupakan program penting selain ketiga program di atas. Program ini dapat mendukung berjalannya ketiga program di atas. Karena berawal dari kesehatanlah, masyarakat dapat bekerja dengan maksimal. Dengan mengadakan pemeriksaan kesehatan setiap 1 bulan sekali, maka kita dapat membantu masyarakat dalam menjaga kesehatan masing-masing individu.
            Dari kontribusi kecil inilah kita dapat melahirkan kontribusi-kontribusi besar di masa mendatang. Tidak perlu setiap mahasiswa harus menjadi aktivis kampus yang aktif di ranah sosial politik, mengikuti banyak aksi massa untuk membangun karakter dengan semangat kontribusi di dalamnya. Semua lini yang ada dalam kehidupan di kampus dapat menjadi media yang tepat untuk membangun karakter dan menyiapkan diri untuk berkontribusi lebih besar di masa yang akan datang. Bangsa ini merindukan kontribusi pemuda-pemudi terbaiknya. Semua itu bukan untuk siapa-siapa, tapi untuk bangsa, untuk negara, dan untuk tanah air tercinta, Indonesiaku.

“Tidak ada cara yang paling baik untuk belajar kecuali dengan terjun langsung menyelesaikan persoalan. Seminar untuk sekedar seminar dan seribu diskusi bukannya tidak penting, tetapi tidak begitu banyak dihargai.”
(Bacharuddin Jusuf Habibie)

0 komentar:

Poskan Komentar