Tampilkan postingan dengan label Esai. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Esai. Tampilkan semua postingan

Selasa, 29 Januari 2013

Peran Pemuda Dalam Menghidupkan Iklim Keislaman Di Pedesaan



     Mendengar kata pemuda, yang berada dibenak kita adalah semangat dan pantang menyerah. Memang benar, pemuda adalah sosok manusia yang penuh dengan semangat dan sikap pantang menyerah untuk perubahan masa depan yang lebih baik.
Kita bisa melihat contoh, seorang Usamah bin Zaid, menjadi penglima perang di usianya yang masih belia 17 tahun, Ali karomalllahu wajhah seorang pemuda dengan segudang ilmu luar biasa, Muhammad Fatih, telah menaklukkan beberapa daerah kekuasaan  dengan mengibarkan panji panji Islam.
Contoh lain yaitu pada Tahun 16 Hijriyah, menjadi saksi,  Kholid bin Walid, Amr bin Al-ash dan Abu Ubaidah telah menggentarkan pasukan musuh, bahkan sebulan sebelum berperang. Tahukah apa yang terjadi????

Sang Pelayan Sejati


            Pelayan ialah orang yang bekerja di restoran, bar, maupun kafe untuk melayani pengunjung yang datang. Pekerjaan ini termasuk dalam sektor jasa. Pelayan mencatat pesanan pengunjung dan kemudian membawa makanan atau minuman ke meja pemesan. Seorang pelayan yang baik dapat membantu pengunjung dengan merekomendasikan menu terbaik. Banyak pelayan yang diminta oleh bosnya mengenakan seragam. (Wikipedia)
 “Pelayan”, beraneka ragam arti dan makna yang muncul ketika mendengar kata ini. Ya, pelayan dapat dimaknai sebagai orang yang tugasnya melayani. Layaknya di masa kecil kita yang hanya bisa merengek meminta uang kepada orang tua, minta suap ketika makan, minta dimandikan ketika belum mandi, dan banyak lagi hal yang bisa disebut kita sedang dilayani oleh orang tua. Bahkan saat beranjak dewasa kita masih sering melakukan hal tersebut. Marah jika uang sakunya kurang, tidak mau sekolah jika tidak naik motor, sekolah masih harus diantar. Ya itulah kita. Ketika beranjak dewasa, pola pikir ini sudah harus diubah, bukan dilayani tapi melayani.

Internet Sebagai Media Pemersatu Kebudayaan Di Indonesia



Di era milenium ketiga, penggunaan teknologi informasi di Indonesia khususnya internet mengalami kenaikan yang signifikan. Menjamurnya warung internet di berbagai tempat, khususnya di kota-kota besar di Indonesia menjadi indikator tingginya minat masyarakat untuk mengakses berbagai informasi yang disajikan oleh dunia maya. Namun demikian, ternyata perkembangan ini tidak cukup menggembirakan karena ternyata kemanfaatan teknologi informasi berupa internet belum terlihat pada sebagian besar masyarakat yang menggunakannya. Bahkan justru ditemukan adanya kontradiksi berupa penyalahgunaan internet untuk berbagai pelanggaran, baik hukum, kesusilaan maupun agama. Hal ini boleh jadi karena kehadiran internet menjadi guncangan budaya yang cukup berat bagi masyarakat Indonesia saat ini.

Selasa, 11 Desember 2012

Kontribusi Nyata Untuk Bangsa Di Masa Mendatang

               Sudah berlalu setengah abad yang lalu. Pendiri negeri ini pernah berkata bahwa tujuan didirikannya universitas adalah untuk menghasilkan lulusan-lulusan terbaik yang dapat menjadi solusi bagi permasalahan bangsa. Lantas mengapa harus mahasiswa? mengapa pada akhirnya mahasiswa menjadi harapan besar bangsa ini? sesungguhnya jika kita mau melihat lebih dalam pada diri kita, maka jawaban tersebut akan kita temukan dengan sangat jelas.
            Kebanyakan mahasiswa beranggapan bahwa menjadi seorang yang siap secara internal maupun eksternal terlebih dahulu, sebelum akhirnya berkontribusi untuk masyarakat. Hal tersebut dimanifestasikan dengan banyaknya rencana hidup mahasiswa dengan isi yang tidak jauh berbeda. Diawali lulus dengan predikat cumlaude, bekerja di perusahaan baik nasional maupun internasional, mendapatkan gaji tinggi, melanjutkan S2 ke luar negeri, dan di saat semua hal tersebut dicapai maka itulah saat yang tepat untuk berkontribusi di masyarakat.
            Apakah manusia dapat menjamin bahwa dirinya dapat hidup sampai dia siap untuk mengabdi kepada masyarakat? tidak, tidak ada seorang pun yang dapat menjamin bahwa dirinya akan hidup di keesokan harinya. Jika seseorang menunggu waktu yang tepat untuk dirinya dapat mengabdi pada negeri ini, maka sampai matipun dirinya tidak akan pernah siap. Seperti itulah gambaran seorang mahasiswa dalam mempersiapkan diri untuk berkontribusi dalam masyarakat dan bangsa ini. Dan yang harus dilakukan adalah melakukannya sekarang, bukan nanti!